“Love is composed of a
single soul inhabiting two bodies.” — Aristoteles
Pernah nggak kamu suka
sama seseorang, nyaman ngobrol dengannya, bahkan mungkin mulai membayangkan
seperti apa kalau kalian benar-benar bersama, tapi di satu sisi ada perasaan
yang bikin kamu mundur pelan-pelan? Bukan karena dia jahat, bukan juga karena kamu
nggak suka. Justru karena kamu mulai suka, muncul pikiran, “Kalau nanti
serius, hidupku bakal berubah nggak, ya?” atau “Jangan-jangan setelah
punya pasangan aku nggak bisa sebebas sekarang?”
Kamu mulai
membayangkan harus selalu memberi kabar, menjelaskan pergi ke mana, menyediakan
waktu setiap saat, atau mungkin mengurangi hobi yang selama ini kamu nikmati.
Teman-teman bisa saja jadi jarang ditemui, bahkan keputusan sederhana dalam
hidup terasa seperti sesuatu yang nantinya harus didiskusikan dulu. Akhirnya
kamu berpikir, “Kayaknya enakan sendiri deh,” padahal sebenarnya kamu
juga ingin dicintai.
Kalau kamu pernah
merasakan dilema seperti ini, tenang. Kamu nggak aneh. Bisa jadi yang kamu
takutkan sebenarnya bukan jatuh cinta, tetapi gambaran tentang hubungan yang
ada di kepalamu. Karena selama ini mungkin kamu mengenal cinta sebagai sesuatu
yang membuat dua orang harus selalu bersama, harus saling mengetahui semuanya,
harus menjadi prioritas nomor satu setiap saat, bahkan seolah-olah ketika sudah
punya pasangan, sebagian dari kehidupan pribadi harus dikorbankan.
Kalau definisinya
seperti itu, ya wajar kalau cinta terasa seperti kehilangan kebebasan. Tapi…
benarkah cinta harus seperti itu?
Ketika Jatuh Cinta
Mulai Terasa Seperti Kehilangan Diri Sendiri
Ada fase dalam hidup
ketika kamu mulai menyadari bahwa kebebasan ternyata bukan sekadar bisa pergi
ke mana saja. Kebebasan juga berarti kamu punya ruang untuk berpikir, punya
waktu sendiri, bisa mengejar sesuatu yang kamu suka, bertemu teman, fokus pada pekerjaan,
dan punya dunia kecil yang memang hanya milikmu.
Makanya, ketika ada
seseorang datang dan menawarkan hubungan, responsmu mungkin bukan cuma, “Wah,
menyenangkan.” Kamu juga mulai berpikir, “Terus hidupku nanti gimana?”
Ini yang kadang bikin orang bingung dengan dirinya sendiri. Kamu suka dia, tapi
takut terlalu dekat; kamu ingin punya hubungan, tapi takut kehilangan ruang;
kamu ingin dicintai, tapi nggak ingin hidupmu dikendalikan.
Karena bingung,
pilihan paling mudah biasanya adalah mundur. “Ah, kayaknya belum siap
pacaran.” Padahal belum tentu kamu memang nggak siap mencintai seseorang.
Mungkin kamu hanya belum tahu bahwa sebuah hubungan sebenarnya bisa punya
bentuk yang berbeda.
Hubungan nggak harus
berarti dua orang yang melakukan semuanya bersama. Nggak harus setiap hari
bertemu, nggak harus setiap saat chatting, dan nggak harus semua aktivitas
dilakukan berdua. Dua orang bisa saling mencintai sekaligus tetap punya
kehidupan masing-masing.
Masalahnya, konsep
seperti ini sering kalah populer dibanding gambaran hubungan yang serba
melekat. Pacaran harus selalu bersama, kalau sayang harus selalu mengutamakan,
dan kalau serius harus selalu tersedia. Akhirnya, tanpa sadar kamu menganggap kedekatan
dan kebebasan sebagai dua hal yang bertentangan.
Padahal belum tentu.
Mungkin Kamu Bukan
Takut Jatuh Cinta, Tapi Takut Dikontrol
Coba kita jujur
sedikit. Kalau kamu bilang takut kehilangan kebebasan, sebenarnya kebebasan
seperti apa yang kamu takut kehilangan? Apakah kamu takut nggak bisa punya
waktu sendiri, takut nggak bisa ketemu teman, takut harus selalu memberi kabar,
atau jangan-jangan kamu takut suatu hari harus meminta izin untuk hal-hal yang
sebelumnya bisa kamu putuskan sendiri?
Kalau jawabannya yang
terakhir, mungkin persoalannya bukan cinta. Kamu sedang takut kehilangan kendali
atas hidupmu sendiri. Dan ketakutan seperti itu cukup masuk akal, apalagi kalau
kamu pernah melihat hubungan orang lain yang penuh dengan aturan dan kontrol.
Bisa jadi orang terdekatmu pernah menjalani hubungan seperti itu, atau kamu
sendiri pernah mengalami hubungan yang membuatmu merasa terlalu dibatasi.
Pengalaman-pengalaman
tersebut bisa membentuk sebuah kesimpulan dalam kepala: “Kalau aku dekat
dengan seseorang, lama-lama aku akan kehilangan diriku.” Padahal, satu
hubungan yang buruk tidak otomatis menjadi gambaran semua hubungan. Sama
seperti pernah naik kendaraan yang mogok bukan berarti semua kendaraan pasti
akan mogok.
Yang perlu kamu
pelajari bukan bagaimana menghindari semua hubungan, tetapi bagaimana mengenali
hubungan yang sehat. Karena ada perbedaan besar antara pasangan yang peduli
dan pasangan yang mengontrol.
Pasangan yang peduli
mungkin bertanya kamu pergi ke mana karena dia ingin tahu kabarmu. Pasangan
yang mengontrol bisa menuntut kamu memberi laporan karena dia merasa berhak
mengatur seluruh gerakmu. Dari luar mungkin kelihatannya mirip, tetapi rasanya
sangat berbeda: yang satu membuatmu merasa diperhatikan, sementara yang satu
membuatmu merasa diawasi.
Dan mungkin inilah
bagian yang perlu kamu pahami sebelum menyimpulkan bahwa kamu takut jatuh
cinta.
Hubungan Sehat
Nggak Harus Membuat Hidupmu Mengecil
Bayangkan kamu punya
kehidupan yang sebenarnya sudah cukup menyenangkan. Ada pekerjaan yang sedang
kamu bangun, ada teman-teman yang kamu sayangi, ada hobi yang bikin kamu lupa
waktu, dan ada target yang ingin kamu capai. Lalu kamu bertemu seseorang. Apakah
ketika dia masuk ke hidupmu semua itu harus hilang?
Tentu nggak.
Justru hubungan yang
sehat seharusnya memberi ruang agar kehidupanmu tetap berkembang. Kamu tetap
boleh punya waktu untuk diri sendiri, tetap boleh menikmati hobi, tetap boleh
pergi bersama teman, dan tetap boleh punya mimpi yang tidak berhubungan dengan
pasangan. Pasanganmu juga punya hak yang sama.
Ini bukan berarti
hubungan menjadi tidak penting. Justru sebaliknya. Kalian bisa saling memilih
tanpa harus saling memiliki secara berlebihan. Ada perbedaan antara “aku
memilih menghabiskan waktu bersamamu” dengan “aku harus menghabiskan
seluruh waktuku bersamamu.” Yang pertama datang dari keinginan, sementara
yang kedua bisa terasa seperti kewajiban.
Nah, mungkin selama
ini kamu belum pernah melihat hubungan dari sudut pandang seperti ini. Kamu
mungkin mengira komitmen berarti mengorbankan kebebasan. Padahal, komitmen yang
sehat justru bisa berarti, “Aku memilih berjalan bersamamu, tanpa harus
berhenti menjadi diriku sendiri.”
Tapi Ada Satu Hal
yang Perlu Kamu Waspadai
Di sisi lain, jangan
sampai ketakutan kehilangan kebebasan justru menjadi alasan untuk selalu
menjaga jarak. Ini juga bisa terjadi. Kamu bilang ingin bebas, tapi sebenarnya
kamu takut dekat. Kamu bilang nggak suka dikekang, padahal sebenarnya kamu
takut bergantung pada seseorang. Kamu bilang nyaman sendiri, padahal mungkin
kamu takut suatu hari orang itu pergi dan kamu terluka.
Nah, ini bagian yang
agak tricky. Karena kadang kita menggunakan kata “kebebasan” untuk
membungkus ketakutan yang sebenarnya lebih dalam. Kita bilang, “Aku nggak
mau kehilangan ruang,” padahal yang kita rasakan adalah, “Aku takut
kalau terlalu sayang, nanti aku yang sakit.”
Kalau ini yang
terjadi, menjauh terus-menerus belum tentu menyelesaikan masalah. Karena sejauh
apa pun kamu berlari dari kedekatan, kebutuhan untuk dicintai tetap bisa
muncul.
Maka coba tanya dirimu
sendiri dengan jujur:
“Aku benar-benar
membutuhkan kebebasan, atau aku sedang mencari alasan supaya nggak perlu
terlalu dekat dengan seseorang?”
Nggak perlu buru-buru
menjawab. Kadang pertanyaan yang bagus memang lebih berguna daripada jawaban
yang terburu-buru.
Kebebasan dalam
Hubungan Bukan Berarti Bebas Tanpa Batas
Ada satu miskonsepsi
lain yang juga perlu diluruskan. Menjaga kebebasan bukan berarti kamu bisa
melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan pasangan. Kalau kamu sudah memilih
berkomitmen, tentu ada tanggung jawab yang ikut datang. Kamu tetap perlu
menghargai perasaan pasangan, tetap perlu berkomunikasi, dan tetap perlu
mempertimbangkan keputusan yang berdampak pada hubungan.
Jadi, kebebasan bukan
berarti, “Aku bebas melakukan apa pun, kamu nggak boleh protes.” Bukan
begitu. Kebebasan yang sehat lebih dekat dengan, “Aku tetap punya ruang
untuk menjadi diriku sendiri, dan kamu juga punya ruang untuk menjadi dirimu
sendiri.”
Ada batas, ada
kesepakatan, ada komunikasi, dan yang paling penting, ada rasa saling percaya.
Karena hubungan tanpa batas bisa berantakan, tetapi hubungan tanpa ruang juga
bisa terasa sesak. Keduanya perlu berjalan beriringan.
Jadi, Gimana Kalau
Kamu Sudah Terlanjur Takut?
Nggak perlu memaksa
diri untuk langsung menjadi orang yang sangat terbuka terhadap hubungan. Mulai
saja dari memahami dirimu sendiri. Coba perhatikan apa yang sebenarnya
membuatmu takut: apakah kamu takut kehilangan waktu, takut dikontrol, takut
kehilangan identitas, takut harus mengubah kebiasaan, atau takut terluka?
Semakin spesifik kamu
mengenali ketakutanmu, semakin mudah kamu menghadapinya. Misalnya kamu sadar
bahwa kamu memang butuh waktu sendiri setiap minggu. Sampaikan, bukan ketika
kamu sudah marah atau ketika kamu sudah merasa tercekik, tetapi sejak awal.
Kamu bisa bilang
sederhana, “Aku senang dekat sama kamu. Tapi aku juga tipe orang yang tetap
butuh waktu sendiri dan tetap ingin menjalani beberapa hal yang aku suka.”
Kalimat seperti itu bukan bentuk penolakan. Itu justru bentuk kejujuran.
Dan respons orang
tersebut juga bisa menjadi informasi penting buatmu. Kalau dia bisa memahami
dan menghargai kebutuhanmu, mungkin kamu sedang berhadapan dengan seseorang
yang mampu membangun hubungan secara dewasa. Tapi kalau kebutuhan yang
sebenarnya wajar langsung dianggap sebagai tanda kamu nggak sayang, kamu
mungkin perlu berhenti sejenak.
Karena hubungan yang
sehat bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban, melainkan tentang
bagaimana dua orang mencari bentuk hubungan yang tetap membuat keduanya merasa
aman.
Kamu Nggak Harus
Memilih antara “Dicintai” atau “Bebas”
Mungkin ini yang
paling penting dari semuanya. Kamu nggak harus memilih. Kamu bisa mencintai
seseorang dan tetap punya kehidupan sendiri. Kamu bisa serius dalam hubungan
dan tetap punya waktu untuk diri sendiri. Kamu bisa punya pasangan tanpa
menjadikan pasangan sebagai seluruh identitasmu, dan kamu bisa sangat
menyayangi seseorang tanpa harus kehilangan dirimu sendiri.
Bahkan, mungkin justru
ketika kamu sudah punya kehidupan yang tetap utuh, kamu bisa mencintai dengan
lebih sehat. Kamu nggak mencintai karena takut sendirian, nggak mencintai
karena butuh seseorang untuk menyelamatkan hidupmu, dan nggak mencintai karena merasa
hidupmu baru lengkap kalau ada dia.
Kamu mencintai karena
memang ingin berjalan bersama.
Ada bedanya.
Dan perbedaan itu
cukup besar.
Pada Akhirnya,
Cinta Seharusnya Menambah Kehidupan, Bukan Menghapusnya
Kalau sekarang kamu
sedang berada di fase “Aku suka dia, tapi kok takut kehilangan kebebasan?”,
jangan langsung menganggap ada yang salah dengan dirimu. Mungkin justru ada
sesuatu yang sedang kamu pelajari tentang dirimu sendiri.
Kamu sedang belajar
bahwa dekat dengan seseorang tidak harus berarti kehilangan identitas. Kamu
sedang belajar bahwa komitmen tidak selalu berarti dikontrol. Dan kamu sedang
belajar bahwa hubungan sehat bukan tentang dua orang yang melebur menjadi satu
sampai lupa siapa dirinya masing-masing.
Hubungan yang sehat
justru memberi ruang untuk dua individu yang utuh. Ada aku, ada kamu, dan ada kita.
Ketiganya tetap punya tempat.
Jadi, sebelum
memutuskan untuk kabur hanya karena mulai jatuh cinta, mungkin berhenti
sebentar dan tanyakan:
“Sebenarnya, apa
yang paling aku takutkan dari hubungan ini?”
Karena bisa jadi,
setelah kamu menemukan jawabannya, kamu sadar bahwa yang selama ini kamu
hindari bukan cinta. Kamu hanya sedang berusaha melindungi dirimu.
Dan ketika kamu sudah
tahu bagaimana melindungi diri tanpa harus menutup diri, mungkin cinta nggak
lagi terasa seperti kehilangan kebebasan.
Mungkin justru terasa
seperti menemukan seseorang yang bisa berjalan bersamamu tanpa meminta kamu
berhenti menjadi dirimu sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar