Ada satu momen aneh yang mungkin pernah kamu rasain.
Bukan momen besar, bukan juga kejadian dramatis, tapi cukup bikin kamu berhenti sebentar dan mikir.
Kok tiba-tiba aku kepikiran diet ini, olahraga itu, beli suplemen ini, padahal sebelumnya nggak pernah kepikiran sama sekali.
Awalnya kelihatan sepele.
Kamu cuma scroll TikTok sambil rebahan, nonton video orang lari pagi, meal prep, atau testimoni produk kesehatan.
Tapi entah kenapa, beberapa hari kemudian, hal-hal itu mulai terasa “penting” buat kamu.
Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi soal niat hidup sehat.
Pertanyaannya lebih halus, lebih dalam, dan sering luput kita sadari.
Apakah keinginan itu benar-benar datang dari tubuh kita, atau pelan-pelan dibentuk oleh sesuatu yang terus kita konsumsi setiap hari.
Tubuh Kita Tidak Hidup di Ruang Hampa
Kita sering menganggap keputusan soal tubuh itu personal.
Makan apa, olahraga apa, diet apa, semua terasa seperti pilihan sadar yang kita ambil sendiri.
Padahal, tubuh kita hidup di lingkungan yang terus memberi sinyal, sugesti, dan dorongan tanpa henti.
Media sosial bukan cuma ruang hiburan.
Ia adalah ekosistem yang sangat aktif membaca kebiasaan, ketertarikan, bahkan keraguan kita.
Setiap like, pause, dan swipe yang kita lakukan ikut membentuk apa yang akan kita lihat berikutnya.
Di sinilah algoritma mulai bekerja bukan sebagai alat, tapi sebagai lingkungan.
Lingkungan yang secara perlahan membentuk standar, ekspektasi, dan persepsi kita tentang “tubuh ideal” dan “hidup sehat”.
Tanpa sadar, tubuh kita mulai merespons bukan hanya pada kebutuhan biologis, tapi juga pada stimulus digital.
Seperti kata Marshall McLuhan, “The medium is the message.”
Bukan cuma kontennya yang berpengaruh, tapi medium itu sendiri ikut mengubah cara kita berpikir dan merasa.
Dan hari ini, medium itu bernama algoritma.
Dari Scroll ke Sugesti yang Mengendap
Algoritma tidak bekerja dengan paksaan.
Ia tidak pernah bilang, “kamu harus diet” atau “kamu wajib olahraga begini.”
Yang ia lakukan jauh lebih halus dan efektif.
Ia mengulang.
Ia memperkuat.
Ia menormalisasi.
Ketika kamu beberapa kali nonton video tentang pola makan tertentu, algoritma membaca itu sebagai minat.
Lalu ia menyajikan konten serupa, dengan sudut pandang yang lebih ekstrem, lebih meyakinkan, dan lebih emosional.
Pelan-pelan, apa yang awalnya cuma tontonan berubah jadi referensi.
Di titik tertentu, kamu nggak lagi bertanya “perlu atau nggak.”
Kamu mulai bertanya, “kenapa aku belum mulai?”
Dan dari sini, sugesti itu mengendap di bawah sadar.
Psikolog Daniel Kahneman pernah menjelaskan tentang System 1, cara berpikir cepat dan intuitif yang sering mengambil alih tanpa kita sadari.
Algoritma bekerja sangat selaras dengan sistem ini.
Ia tidak menunggu kita berpikir rasional, ia langsung masuk ke respons emosional.
Makan Bukan Lagi Sekadar Lapar
Dulu, makan itu soal lapar dan kenyang.
Sekarang, makan juga soal identitas, citra diri, dan rasa “aku lagi berproses jadi lebih baik.”
Apa yang kita makan sering kali membawa makna lebih dari sekadar nutrisi.
Konten makanan sehat yang terus muncul menciptakan standar baru.
Bukan cuma soal sehat atau tidak, tapi soal “cukup niat” atau “kurang effort.”
Pelan-pelan, muncul rasa bersalah saat makan sesuatu yang tidak sesuai standar algoritma.
Padahal tubuh kita punya kebutuhan yang kontekstual.
Kebutuhan itu dipengaruhi aktivitas, kondisi mental, ekonomi, dan ritme hidup.
Sayangnya, algoritma tidak peduli pada konteks itu.
Ia hanya peduli pada engagement.
Semakin ekstrem narasinya, semakin tinggi kemungkinan orang berhenti scroll.
Dan tubuh kita, yang seharusnya didengar dengan empati, akhirnya tunduk pada narasi seragam.
Ada kalimat yang sering dikaitkan dengan Hippocrates, “Let food be thy medicine.”
Kalimat ini sering dipakai untuk membenarkan pola makan tertentu.
Padahal yang sering terlupa, obat juga harus sesuai dosis dan kondisi, bukan sekadar ikut tren.
Olahraga yang Berubah Jadi Tuntutan Sosial
Olahraga, di sisi lain, juga mengalami pergeseran makna.
Dari aktivitas menjaga kebugaran, ia berubah jadi simbol disiplin dan nilai diri.
Semakin berat, semakin ekstrem, semakin dianggap “niat.”
Algoritma mendorong visual yang kuat.
Tubuh berkeringat, transformasi sebelum-sesudah, dan rutinitas yang tampak heroik.
Semua itu membangun narasi bahwa olahraga harus terlihat, harus terukur, dan harus bisa dipamerkan.
Tanpa sadar, kita mulai membandingkan proses internal kita dengan hasil visual orang lain.
Padahal tubuh setiap orang punya titik awal dan kapasitas berbeda.
Perbandingan ini sering kali melahirkan rasa kurang, bukan motivasi.
Filsuf Byung-Chul Han pernah menulis tentang society of performance, masyarakat yang menilai diri dari produktivitas dan pencapaian.
Hari ini, bahkan tubuh pun ikut masuk ke logika itu.
Tubuh bukan lagi ruang perawatan, tapi proyek yang harus terus ditingkatkan.
Kesehatan yang Menjadi Obsesi Diam-diam
Ironisnya, semakin sering kita terpapar konten kesehatan, semakin cemas kita terhadap tubuh sendiri.
Alih-alih merasa lebih sehat, kita justru lebih waspada, lebih takut, dan lebih perfeksionis.
Setiap sensasi kecil di tubuh terasa seperti tanda bahaya.
Algoritma cenderung menyukai konten yang memicu emosi kuat.
Takut, khawatir, panik, atau rasa “kalau nggak ikut, aku tertinggal.”
Dari sinilah obsesi tumbuh, bukan dari kesadaran, tapi dari kecemasan.
Kesehatan mental sering tertinggal dalam narasi ini.
Padahal stres kronis, rasa bersalah berlebihan, dan tekanan sosial juga berdampak pada tubuh.
Tubuh bukan mesin yang bisa dioptimalkan tanpa konsekuensi psikologis.
Carl Jung pernah mengatakan, “Until you make the unconscious conscious, it will direct your life and you will call it fate.”
Algoritma bekerja di wilayah yang sangat dekat dengan ketidaksadaran itu.
Dan tanpa refleksi, kita sering mengira dorongan itu sebagai kehendak pribadi.
Siapa yang Diuntungkan dari Semua Ini
Pertanyaan ini penting, walau sering tidak nyaman.
Siapa yang paling diuntungkan ketika kita terus merasa kurang sehat, kurang ideal, dan kurang disiplin.
Jawabannya jarang berhenti di “kesejahteraan individu.”
Platform diuntungkan dari waktu kita.
Brand diuntungkan dari rasa tidak aman kita.
Dan algoritma diuntungkan dari siklus tanpa akhir antara sugesti dan konsumsi.
TikTok Shop dan fitur belanja di Instagram mempercepat siklus ini.
Solusi ditawarkan tepat di bawah masalah yang baru saja ditanamkan.
Tubuh kita menjadi target pasar yang sangat personal.
Ini bukan soal konspirasi besar.
Ini soal sistem yang dirancang untuk efisiensi dan profit, bukan keseimbangan manusia.
Dan di tengah sistem itu, kita perlu kesadaran, bukan penolakan total.
Mengambil Jarak, Bukan Menjauh
Menariknya, solusi dari semua ini bukan dengan memusuhi teknologi.
Bukan juga dengan mematikan semua aplikasi dan hidup asketik.
Yang lebih relevan adalah mengambil jarak secara sadar.
Jarak untuk bertanya, “ini kebutuhan tubuhku atau sugesti layar?”
Jarak untuk mendengar sinyal internal, bukan hanya validasi eksternal.
Jarak untuk mengembalikan tubuh sebagai ruang dialog, bukan objek penilaian.
Kita bisa mulai dengan memperlambat.
Tidak semua tren harus diikuti, tidak semua metode cocok untuk semua orang.
Tubuh kita bukan eksperimen algoritma.
Di titik ini, hidup sehat kembali ke makna awalnya.
Bukan tentang tampil ideal, tapi tentang merasa cukup hadir di tubuh sendiri.
Dan mungkin, justru di sana kesehatan itu benar-benar mulai.



